UNAIR dan UMS Perkuat Kajian Perikanan Perbatasan Melalui Community Empowerment Program di Sebatik Indonesia–Malaysia

17 Juni 2026, 13:34 WIB

SEBATIK, – Pulau Sebatik kembali menjadi pusat perhatian dalam penguatan kerja sama akademik dan pembangunan kawasan perbatasan. Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Universiti Malaysia Sabah (UMS) menggelar Community Empowerment Program yang melibatkan akademisi, profesor, peneliti, nelayan, serta pemangku kepentingan dari Indonesia dan Malaysia untuk memperkuat kajian sektor perikanan di wilayah perbatasan kedua negara.Rabu(17/06).

Program bertaraf internasional tersebut menjadi wujud nyata kolaborasi perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis riset bagi masyarakat pesisir yang hidup dan beraktivitas di kawasan strategis perbatasan Indonesia–Malaysia.

Pulau Sebatik dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki posisi unik sebagai wilayah yang terbagi antara Indonesia dan Malaysia. Kondisi tersebut menjadikan Sebatik sebagai laboratorium alami untuk mengkaji berbagai isu perikanan lintas batas, mulai dari pengelolaan sumber daya laut, aktivitas penangkapan ikan, hingga dinamika sosial ekonomi masyarakat nelayan.

Perwakilan Universitas Airlangga, Lina Puryanti, mengatakan kerja sama dengan Universiti Malaysia Sabah merupakan bagian dari komitmen kedua institusi dalam memperkuat pengabdian masyarakat sekaligus menghasilkan kajian ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat perbatasan.

“Sebatik merupakan wilayah yang sangat strategis karena berada di antara dua negara. Karena itu kami menggandeng Universiti Malaysia Sabah sebagai mitra yang selama ini telah menjalin kerja sama dengan Universitas Airlangga. Dalam kegiatan ini hadir tiga profesor yang akan berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait sektor perikanan,” ujarnya.

Menurut Lina, penguatan sektor perikanan membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Selain didukung penelitian akademik, diperlukan pemahaman langsung terhadap kondisi dan tantangan yang dihadapi masyarakat nelayan agar rekomendasi yang dihasilkan dapat diterapkan secara efektif.

Dalam pelaksanaannya, para akademisi dan peneliti dari kedua universitas melakukan dialog serta diskusi bersama nelayan untuk menggali berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir. Pembahasan mencakup pola penangkapan ikan, pengelolaan sumber daya laut, keberlanjutan lingkungan, hingga tantangan aktivitas perikanan di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Hasil kajian tersebut nantinya akan dirumuskan menjadi rekomendasi ilmiah yang diharapkan dapat mendukung penyusunan kebijakan pembangunan sektor perikanan yang lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Anggota DPRD Kabupaten Nunukan, Ramsah, yang menilai kolaborasi perguruan tinggi lintas negara menjadi langkah strategis dalam mendorong pembangunan kawasan perbatasan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Universitas Airlangga dan Universiti Malaysia Sabah yang telah memilih Pulau Sebatik sebagai lokasi kegiatan. Kami berharap hasil program ini tidak berhenti pada kajian akademik semata, tetapi juga mampu melahirkan solusi konkret yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya para nelayan,” kata Ramsah.

Ia menegaskan bahwa nelayan Sebatik memiliki peran penting tidak hanya sebagai penggerak ekonomi pesisir, tetapi juga sebagai bagian dari wajah Indonesia di kawasan perbatasan. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan tata kelola perikanan, serta perlindungan sumber daya laut harus menjadi perhatian bersama.

Menurutnya, hubungan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia dan Malaysia yang selama ini terjalin harmonis di kawasan perbatasan dapat menjadi modal penting dalam menciptakan stabilitas serta mendorong pengembangan sektor perikanan yang lebih maju dan kompetitif.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan forum diskusi interaktif yang mempertemukan akademisi, peneliti, dan nelayan untuk membahas peluang pengembangan sektor perikanan di masa depan. Berbagai masukan yang dihimpun akan menjadi bagian dari kajian bersama UNAIR dan UMS dalam merumuskan strategi pembangunan perikanan berbasis kebutuhan masyarakat perbatasan.

Lebih dari sekadar program pengabdian masyarakat, Community Empowerment Program UNAIR–UMS menjadi simbol penguatan diplomasi akademik Indonesia–Malaysia. Di Pulau Sebatik, kolaborasi lintas negara diwujudkan melalui riset, pemberdayaan masyarakat, dan pertukaran pengetahuan untuk membangun sektor perikanan yang tangguh, berdaya saing, serta berkelanjutan di kawasan perbatasan.(adv)Oz.

Berita Lainnya