SEBATIK — Pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata Republik Indonesia terus mendorong peningkatan kualitas penyelenggaraan event daerah sebagai strategi memperkuat daya saing pariwisata nasional. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Penyelenggaraan Event Berkualitas yang digelar di PLBN Sebatik, Jumat (24/4/2026).
Kegiatan ini melibatkan perwakilan deputi Kementrian pariwisata , Komisi VII DPR RI, Dinas Pariwisata Kabupaten Nunukan, serta diikuti pemerintah kecamatan, desa, dan pelaku usaha. Sosialisasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas penyelenggara event agar mampu menghadirkan kegiatan yang profesional, menarik, dan berdaya saing, khususnya di kawasan perbatasan.
Dalam pemaparannya, Okky Yonny Syahputra menyoroti besarnya potensi wisata di Pulau Sebatik yang memiliki keunikan geografis karena berbatasan langsung dengan Malaysia. Mobilitas lintas negara yang tinggi dinilai menjadi peluang besar untuk menarik wisatawan.
“Fenomena masyarakat lintas negara seperti dari Medan ke Penang, atau Pontianak ke Kuching, juga terjadi di Kalimantan Utara, di mana warga kerap beraktivitas ke Tawau. Ini potensi yang harus dimanfaatkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, ikon wisata seperti “rumah dua negara” di Sebatik dapat menjadi daya tarik unggulan yang membedakan kawasan tersebut dari destinasi lain di Indonesia.
Melalui program Karisma Event Nusantara (KEN), pemerintah mendorong daerah untuk meningkatkan kualitas event agar mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Program ini melibatkan kurasi ketat oleh panel independen untuk memilih event terbaik dari seluruh Indonesia.
Menurut Okky, meski Kalimantan telah memiliki sejumlah event unggulan, Sebatik masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas festival lokal agar dapat bersaing di tingkat nasional.
“Ini tantangan bagi daerah. Event yang sudah ada bisa ditingkatkan kualitasnya sehingga ke depan dapat masuk kurasi KEN, mungkin pada 2027,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa event merupakan instrumen penting dalam menggerakkan ekonomi daerah melalui efek berganda (multiplier effect), mulai dari sektor UMKM, perhotelan, hingga transportasi. Rencana kegiatan seperti pameran lokal di Sebatik disebut sebagai langkah awal yang positif dalam membangun ekosistem event yang berkelanjutan.
“Ini menunjukkan masyarakat Sebatik sudah memiliki kemampuan menyelenggarakan event. Tinggal dikembangkan agar mampu menarik wisatawan dari luar, termasuk dari Tawau, Tarakan, hingga Jakarta,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengapresiasi keberadaan sumber daya manusia lokal yang kompeten, termasuk pelaku event organizer bersertifikat di daerah. Hal ini dinilai sebagai modal penting agar penyelenggaraan event tidak bergantung pada pihak luar.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan DPR RI diharapkan terus berlanjut untuk memperkuat sektor pariwisata perbatasan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Banyak event yang bisa dikembangkan, baik modern maupun tradisional. Mari kita promosikan bersama agar event daerah semakin dikenal luas,” pungkasnya.
*Arifuddin.




