NUNUKAN – Persoalan pemerataan pembangunan di wilayah perbatasan kembali menjadi sorotan setelah Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan, Andi Fajrul Syam,SH,.M.Pi melakukan kunjungan silaturahmi ke Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, khususnya di Kampung Tebol RT 02, 04, 05, 07, dan 08, Sabtu (09/05/2026).
Dalam kunjungan tersebut, berbagai persoalan mendasar masyarakat terungkap, mulai dari akses jalan rusak, listrik yang belum menjangkau seluruh rumah warga, hingga persoalan air bersih dan kepastian hukum tanah masyarakat.

“Perjalanan menuju Kampung Tebol ini cukup menguras pikiran, hati, dan perasaan kami. Bukan karena jauhnya jarak, tetapi karena banyak sekali kenyataan hidup masyarakat yang benar-benar membutuhkan perhatian serius pemerintah,” ujar Andi Fajrul Syam.
Ia menjelaskan, silaturahmi yang dilakukan bukan sekadar kunjungan formalitas, melainkan untuk mendengar langsung suara masyarakat dan melihat kondisi nyata yang mereka hadapi setiap hari. Menurutnya, kondisi jalan menuju kampung tersebut sudah menggambarkan beratnya perjuangan warga dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
“Saat cuaca kering saja kendaraan sudah sulit melintas. Kami membayangkan bagaimana saat musim hujan tiba, tentu akses masyarakat bisa lumpuh total,” jelasnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, berdampak besar terhadap pendidikan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat. Anak-anak kesulitan pergi ke sekolah, para petani sulit membawa hasil kebun keluar daerah, hingga warga sakit yang harus mempertaruhkan keselamatan melewati jalan rusak demi mendapatkan pertolongan medis. “Ini bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi menyangkut akses kehidupan dan hak dasar masyarakat,” ungkapnya.
Selain persoalan jalan, masyarakat juga menyampaikan kebutuhan listrik yang hingga kini belum sepenuhnya dinikmati warga. Sekitar 60 rumah masih menunggu kepastian sambungan listrik. Warga berharap anak-anak mereka bisa belajar pada malam hari dengan penerangan yang layak serta menjalani kehidupan yang lebih baik. “Mereka tidak meminta hal berlebihan, hanya ingin kehidupan yang sedikit lebih mudah dari hari ini,” tambahnya.
Keluhan lain yang turut disampaikan masyarakat adalah persoalan tanah dan lahan yang belum memiliki sertifikat resmi. Banyak warga yang telah bertahun-tahun tinggal dan menggantungkan hidup di lahan tersebut, namun masih hidup dalam ketidakpastian hukum. Selain itu, persoalan air bersih serta kondisi jembatan dan box culvert yang rusak juga menjadi perhatian serius masyarakat karena dapat membahayakan keselamatan dan memutus akses warga.
Di akhir kunjungannya, Andi Fajrul Syam menegaskan pembangunan tidak boleh hanya terpusat di perkotaan, tetapi harus benar-benar hadir hingga pelosok desa dan wilayah perbatasan. “Masyarakat Kampung Tebol hanya ingin jalan yang layak, listrik yang menyala, air bersih, kepastian hukum atas tanah, dan jembatan yang aman. Semoga suara mereka benar-benar bisa diperjuangkan bersama,” pungkasnya.
*podding




