NUNUKAN – kelurahan Tanjung harapan sebelumnya telah ditetapkan sebagai kampung perikanan budidaya rumput laut oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono, saat kunjungan kerja ke Nunukan pada akhir Maret 2023. Dalam kunjungan tersebut, Menteri melihat langsung potensi rumput laut Mamolo yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi terbesar di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia.’Minggu(15/02).
Penetapan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia itu menjadi kebanggaan sekaligus harapan besar bagi masyarakat pesisir. Namun, kondisi terkini di lapangan justru memunculkan kekhawatiran serius. Tumpukan sampah botol plastik yang menebal di pesisir dan perairan Mamolo kini menjadi alarm bagi keberlangsungan ekonomi warga.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan, Andi Fajrul Syam, S.H., menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar isu kebersihan lingkungan, tetapi sudah menjadi ancaman langsung terhadap sektor budidaya rumput laut yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
“Sebagai kampung budidaya yang sudah ditetapkan secara nasional, kelurahan Tanjung Harapan tidak boleh dibiarkan tercemar. Sampah botol yang menumpuk ini bisa berdampak besar pada produksi dan kualitas rumput laut,” ujarnya.
Secara teknis, sampah botol plastik yang tersangkut pada tali bentangan budidaya dapat menghambat sirkulasi air dan cahaya matahari, sehingga pertumbuhan rumput laut tidak optimal. Selain itu, kontaminasi plastik dan kotoran berpotensi menurunkan kualitas panen, memengaruhi kadar air dan kebersihan, yang pada akhirnya menekan harga jual di pasaran.
Tak hanya itu, tumpukan sampah juga meningkatkan risiko munculnya penyakit seperti ice-ice dan kerusakan thallus akibat mikroorganisme yang berkembang di sekitar limbah plastik. Kondisi ini tentu merugikan petani yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil budidaya laut.
Lebih jauh, pencemaran tersebut dapat merusak citra Tanjung Harapan sebagai kampung budidaya nasional. Upaya hilirisasi dan ekspor tidak akan maksimal jika kawasan produksi justru tercemar. Plastik yang terurai menjadi mikroplastik pun berpotensi masuk ke rantai makanan dan mengancam ekosistem pesisir dalam jangka panjang.
Andi Fajrul Syam mendesak pemerintah daerah agar segera mengambil langkah konkret dan sistematis dalam menangani persoalan ini. Menurutnya, ketebalan sampah yang terlihat saat ini menunjukkan bahwa masalah tersebut merupakan akumulasi yang tidak tertangani secara berkelanjutan.
“Kita tidak boleh menunggu semakin parah. Ini menyangkut masa depan ekonomi masyarakat Mamolo (Tanjung Harapan) . Harus ada gerakan cepat, kolaboratif, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Ia juga mendorong sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah kelurahan, RT setempat, serta masyarakat untuk segera melaksanakan kerja bakti terpadu dan program pengelolaan sampah berkelanjutan. Dengan langkah nyata, Tanjung Harapan diharapkan tetap menjadi kebanggaan sebagai sentra rumput laut unggulan di wilayah perbatasan.
*Versi kabarsebatik.com




