NUNUKAN – Ini jembatan atau arena Ninja Warrior? Silakan jawab sendiri.
Papan kayu sudah lapuk. Tiang penyangga miring. Di bawahnya air dan lumpur mengintai. Di sekelilingnya sampah menumpuk. Salah pijak sedikit saja, kaki bisa terperosok. Salah keseimbangan sedikit saja, tubuh bisa terjatuh. Luka, cacat, bahkan maut bisa datang tanpa aba-aba.’Selasa(03/26).
Dan di atas “jembatan maut” inilah bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, hingga penjual keliling setiap hari melintas.
Jerambah rapuh ini menjadi akses utama warga RT 04 Kampung Tengah, Kelurahan Tanjung Harapan. Di atas kayu yang nyaris roboh itulah roda ekonomi dipertaruhkan. Setiap langkah bukan sekadar perjalanan, tetapi pertaruhan keselamatan.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan, Andi Fajrul Syam, angkat bicara dengan nada keras.
“Ini bukan uji nyali. Ini bukan wahana ekstrem. Ini soal keselamatan manusia. Jangan sampai ada korban dulu baru semua sibuk,” tegasnya, Selasa (03/03/2026).
Menurutnya, jika pemerintah serius berbicara soal peningkatan ekonomi pesisir, maka infrastruktur dasar adalah fondasi utama. Mustahil membangun UMKM dan memberdayakan nelayan jika akses utama warga saja seperti jebakan maut.
“Jangan hanya pandai bicara program pemberdayaan. Akses jalan dan jembatan adalah nadi kehidupan masyarakat. Kalau nadinya putus, ekonomi ikut lumpuh,” ujarnya.
Ironisnya, jerambah ini memang bukan proyek besar. Tidak mewah. Tidak megah. Tidak menguras anggaran fantastis. Namun justru karena sederhana dan menyangkut keselamatan dasar warga, seharusnya inilah yang menjadi prioritas utama.
Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Nunukan melalui dinas terkait agar segera memasukkan pembangunan jerambah tersebut dalam program prioritas.
“Jangan tunggu ada yang jatuh. Jangan tunggu ada yang meninggal. Jangan tunggu viral baru bergerak,” pungkasnya.
Sebab bagi warga RT 04 Kampung Tengah, ini bukan soal sensasi. Ini bukan soal dramatisasi. Ini soal nyawa yang setiap hari berjalan di atas kayu lapuk.
*Versi kabarsebatik.com




