Isu Ikan Mahal dan Bensin Langka Menguat, Ketua Komisi II DPRD Nunukan Desak Pemda Bertindak Cepat

10 Januari 2026, 11:05 WIB

NUNUKAN – Isu melonjaknya harga ikan dan terbatasnya ketersediaan bensin kian menguat di tengah masyarakat Nunukan dan Sebatik. Perbincangan hangat di media sosial Facebook hingga grup WhatsApp warga mencerminkan keresahan publik terhadap dua komoditas vital yang menjadi penopang utama kehidupan masyarakat perbatasan.Sabtu(10/26).

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan, Andi Fajrul Syam, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh bersikap lamban dalam merespons persoalan yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Harga Ikan Naik, Daerah Pesisir Justru Resah

Kenaikan harga ikan dinilai menjadi ironi besar bagi Nunukan yang dikenal sebagai daerah pesisir dengan potensi sumber daya laut melimpah. Bahkan, mencuat wacana Dinas Perdagangan mengincar pasokan ikan dari wilayah Demak–Pati, Jawa Tengah, guna menekan harga di pasar lokal.

Kondisi ini memicu pertanyaan publik terkait ketersediaan stok ikan lokal dan efektivitas tata niaga hasil perikanan di daerah sendiri.

“Ini perlu penjelasan terbuka. Jangan sampai daerah penghasil ikan justru bergantung pada pasokan luar. Pemerintah harus memastikan stok aman dan distribusi berjalan baik,” tegas Andi Fajrul Syam.

Ia menilai, jika stok ikan sebenarnya mencukupi namun harga tetap tinggi, maka ada persoalan serius pada rantai distribusi dan pengawasan pasar yang harus segera dibenahi.

  Bensin botol langka dan bensin di Pertamina juga langka

Bensin Langka, Aktivitas Warga Terancam Lumpuh

Selain ikan, persoalan bensin juga menjadi sorotan tajam. Bagi masyarakat perbatasan, bensin bukan sekadar bahan bakar, melainkan nadi kehidupan yang menggerakkan seluruh aktivitas ekonomi.

Kelangkaan atau ketidakpastian distribusi bensin berdampak langsung pada:

Nelayan yang tak bisa melaut

Petani yang terhambat mengolah lahan

Pelaku UMKM yang kesulitan berproduksi

Aktivitas harian masyarakat yang tersendat

Hingga kini, masyarakat masih mempertanyakan kondisi riil ketersediaan bensin di Nunukan dan Sebatik. Informasi yang tidak seragam justru memperbesar keresahan publik.

“Pemerintah daerah harus transparan. Sampaikan kondisi stok, distribusi harian, dan solusi yang sedang dijalankan agar masyarakat tidak terus berspekulasi,” ujar Andi Fajrul Syam.

DPRD Dorong Langkah Cepat dan Nyata

Komisi II DPRD Nunukan mendorong pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret, bukan sekadar wacana. Stabilitas harga ikan dan kelancaran distribusi bensin dinilai berkaitan langsung dengan ketahanan sosial dan kesejahteraan masyarakat perbatasan.

“Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi soal keadilan dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Pemerintah harus hadir dengan solusi nyata,” pungkasnya.

Isu ikan mahal dan bensin langka kini menjadi ujian serius bagi pemerintah daerah dalam menjaga kepercayaan publik serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat Nunukan dan Sebatik tetap terpenuhi.

Solusi yang didorong Ketua Komisi II DPRD Nunukan Andi Fajrul syam 

Solusi Ikan

Benahi distribusi,
Aktifkan peran antar multi steakholder sebagai penyangga stok & pengendali harga ,
Operasi pasar ikan saat harga melonjak.
Utamakan serapan ikan nelayan lokal.

Solusi Bensin

Pastikan kuota dan distribusi tepat sasaran (nelayan, petani, UMKM).

Perketat pengawasan SPBU/penyalur dari penimbunan.

Transparansi data stok & distribusi ke publik.

Koordinasi cepat Pemda–Pertamina, jangan tunggu krisis.

Berita Lainnya