H. Muhammad Nurdin “Bang Buaya”, Tokoh Perbatasan dan Sahabat Marinir Penjaga Ambalat

27 November 2025, 14:21 WIB
Opini

SEBATIK — Di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia, nama H. Muhammad Nurdin atau “Bang Buaya” selalu disebut dengan penuh hormat. Lahir dan besar di Desa Tanjung Aru, Kecamatan Sebatik, ia tumbuh sebagai sosok yang tegas, berkarakter kuat, dan menjadi penjaga marwah adat serta keamanan sosial masyarakat Bajau dan Bugis. Julukan “Bang Buaya” justru menggambarkan keteguhan hatinya—prinsip yang sulit digoyahkan dan keberanian yang selalu ia tunjukkan dalam menghadapi dinamika perbatasan.

Kehidupan sehari-hari Bang Buaya dihiasi kesederhanaan dan religiusitas yang kuat. Ia sering memimpin kegiatan keagamaan, menjadi pemuka adat, sekaligus penghubung antara masyarakat dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan. Sikap nasionalismenya sangat menonjol. Pada peringatan HUT ke-68 RI tahun 2013, ia pernah menyampaikan ucapan yang masih diingat hingga kini: “Hati kami, darah kami, dan nafas kami selalu untuk NKRI.” Kalimat itu menjadi simbol tekad masyarakat perbatasan yang tak pernah surut menjaga tanah air.

Kedekatannya dengan prajurit Marinir bukan muncul tiba-tiba. Hubungan itu terjalin sejak awal pembentukan Satuan Tugas Marinir (Satgasmar) Ambalat, yang mulai bertugas pada 2005. Saat itu, ketegangan meningkat setelah terjadinya beberapa pelanggaran wilayah oleh unsur Malaysia di Blok Ambalat. Komandan Korps Marinir, Mayjen (Mar) Safzen Noerdin, pada Maret 2005 mengonfirmasi pengiriman satu satgas Marinir ke Tarakan, Kalimantan Timur, untuk memperkuat pengamanan di perairan Ambalat. Sejak saat itu, operasi pengamanan diperbatasan laut ini berlanjut melalui rotasi pasukan secara berkala dan menjadi salah satu tugas strategis TNI AL dalam menjaga kedaulatan Indonesia.

Seiring penugasan Satgasmar Ambalat yang terus berjalan, Bang Buaya menjadi figur kunci dalam membangun kepercayaan antara prajurit Marinir dan masyarakat Sebatik. Tidak sedikit Dansatgas yang datang dan pergi menganggapnya sebagai sahabat sekaligus sesepuh yang memberi pandangan jernih mengenai situasi sosial perbatasan. Silaturahmi yang ia bina memberikan penguatan moral bagi pasukan, sekaligus memperkuat penerimaan masyarakat terhadap kehadiran Marinir di wilayah rawan sengketa. Pada Desember 2022, rumahnya bahkan menjadi salah satu lokasi gotong royong Satgas Marinir Ambalat XXVIII ketika membantu relokasi warga—bukti betapa dekatnya hubungan itu terjalin.

Bang Buaya juga memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas keamanan lokal. Masukan-masukannya terkait penyelundupan, migrasi ilegal, hingga ancaman provokasi batas negara menjadi rujukan penting bagi para Dansatgas. Ketegasannya menolak isu-isu provokatif tentang pergeseran garis batas menjadikannya figur yang dihormati tidak hanya oleh masyarakat, tetapi juga oleh aparat pertahanan negara.

Kepergian H. Muhammad Nurdin menyisakan duka mendalam bagi warga Sebatik maupun prajurit Marinir yang pernah bertugas di Ambalat. Dalam ungkapan belasungkawa Letkol Marinir Muhammad Soleh, tergambar jelas ketulusan hubungan itu: “Cukuplah engkau sebagai penghuni syurga-Nya. Kami bersaksi engkau orang baik.”

Bang Buaya bukan sekadar tokoh lokal. Ia adalah simbol keteguhan masyarakat Sebatik menjaga perbatasan, penjaga nilai adat, sahabat Marinir, dan patriot yang menghidupkan semangat NKRI di garis terluar negeri. Warisan perjuangannya akan terus menjadi cahaya bagi generasi perbatasan yang tumbuh di tanah yang ia cintai hingga akhir hayat.

Berita Lainnya