NUNUKAN MANSAPA – Realita pahit masih dirasakan petani sawah di Kelurahan Mansapa. Di tengah gencarnya program pertanian pemerintah daerah, gabah hasil panen hingga kini masih harus dipikul secara manual karena keterbatasan akses jalan tani.
Kondisi tersebut mencuat saat Ketua Komisi II DPRD, Andi Fajrul Syam, S.H., turun langsung mendengarkan keluhan petani dalam dialog terbuka di area persawahan, Minggu sore, 8 Februari 2026. Kunjungan lapangan itu membuka fakta bahwa infrastruktur dasar pertanian belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan riil petani.
Para petani menyampaikan kebutuhan mendesak pembangunan jalan tani yang dapat menjangkau hingga ke tengah sawah. Jalan tersebut dinilai sangat penting agar traktor bisa masuk untuk bajak dan rotary, combine harvester dapat langsung memanen di lokasi, serta kendaraan pickup mengangkut gabah tanpa harus dipikul dengan tenaga manusia.
Menanggapi hal itu, Andi Fajrul Syam menegaskan bahwa sektor pertanian tidak bisa hanya disokong dengan program seremonial. Menurutnya, pemerintah daerah melalui dinas teknis harus hadir secara konkret dari hulu hingga hilir.
“Pemerintah daerah harus benar-benar memfokuskan program kerjanya untuk petani. Bukan hanya hadir saat tanam atau panen, tapi memastikan jalan tani, alat mesin pertanian, pendampingan, hingga akses produksi berjalan terintegrasi,” tegasnya.
Ia menjelaskan, keberadaan jalan tani akan memberi dampak besar bagi petani, mulai dari menekan biaya tenaga kerja, mempercepat waktu tanam dan panen, hingga mengurangi potensi kehilangan hasil panen akibat keterlambatan distribusi gabah.
Lebih jauh, Ketua Komisi II DPRD itu juga menyindir pola kerja dinas terkait yang dinilai masih terlalu administratif. Ia mendorong adanya pemetaan langsung kebutuhan petani di lapangan agar program yang dijalankan tepat sasaran dan berdampak nyata pada peningkatan produktivitas sawah.
Dalam kesempatan tersebut, Andi Fajrul Syam juga berdiskusi dengan Ketua Brigade Pangan Nunukan Selatan, Jumadi, terkait persoalan distribusi gabah dan ketersediaan pupuk yang masih menjadi kendala utama petani.
Para petani berharap perhatian yang ditunjukkan tidak berhenti pada kunjungan semata, tetapi ditindaklanjuti melalui kebijakan dan alokasi anggaran yang berpihak pada sektor pertanian.
Andi Fajrul Syam memastikan seluruh aspirasi petani akan dibawa ke forum resmi DPRD dan dikawal dalam pembahasan bersama pemerintah daerah.
“Kalau petani kuat, daerah juga akan kuat,” pungkasnya.
*Versi kabarsebatik.com




