NUNUKAN — Keluhan serius terkait akses jalan menuju tempat bettang (rumah ikat rumput laut) mengemuka dalam kegiatan penjaringan aspirasi masyarakat (reses) di wilayah Sebatik Timur. Ketua RT 14 Tanjung Harapan menyampaikan bahwa kondisi jalan berlumpur, tergenang, dan nyaris tak layak dilalui,”Selasa(17/02).
Akses tersebut bukan jalur alternatif, melainkan jalur utama distribusi hasil rumput laut masyarakat pesisir. Di titik inilah aktivitas produksi berlangsung dan penghasilan keluarga dipertaruhkan setiap hari, jelasnya.
Warga menilai kerusakan jalan yang semakin parah saat air naik telah memperlambat distribusi hasil panen dan menambah biaya operasional. Pertumbuhan ekonomi rakyat, menurut mereka, tidak dibangun oleh slogan, melainkan oleh infrastruktur yang berfungsi, ungkapnya.
“Bagaimana hasil rumput laut bisa cepat sampai, bagaimana biaya distribusi ditekan, dan bagaimana kualitas tetap terjaga jika aksesnya seperti ini,” tambahnya.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan, Andi Fajrul Syam, menegaskan bahwa infrastruktur dasar di wilayah produksi merupakan prioritas kebijakan daerah dan harus segera ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah, tegasnya.
Masyarakat mendorong langkah konkret berupa perbaikan permanen akses jalan menuju tempat bettang, normalisasi sungai sebagai jalur distribusi alternatif, serta penanganan terpadu kawasan produksi rumput laut sebagai tulang punggung ekonomi warga, ujarnya.
Warga mengingatkan, bila sektor produksi dibiarkan bertahan di atas akses yang rusak, kepercayaan terhadap komitmen pembangunan akan terus tergerus. Ekonomi rakyat tidak bisa bergerak di atas lumpur, melainkan membutuhkan jalan yang layak dan keberpihakan nyata, jelasnya.
Aspirasi ini diharapkan menjadi perhatian utama pemerintah daerah bersama DPRD agar narasi pembangunan tidak berhenti pada perencanaan, melainkan hadir sebagai tindakan nyata di lapangan, pungkasnya.




