Sekolah Tapal Batas Sebatik Butuh Air Bersih dan Infrastruktur Layak, Guru Honorer Ceritakan Pengabdian Penuh Tantangan

28 Juli 2026, 15:26 WIB

SEBATIK – Keterbatasan sarana dan prasarana masih menjadi tantangan besar bagi sekolah di kawasan tapal batas Indonesia–Malaysia. Kepala sekolah menyampaikan sejumlah kebutuhan mendesak, mulai dari penyediaan air bersih melalui sumur bor, pembangunan kembali WC yang telah runtuh, perbaikan jalan sekolah dengan agregat, hingga pembangunan jembatan yang ambruk.Senin(27/07).

 

Selama ini, kebutuhan air bersih di sekolah dan asrama hanya mengandalkan air hujan. Kondisi tersebut menyulitkan aktivitas sehari-hari, terutama bagi 16 siswa yang tinggal di asrama. Sebagian besar penghuni asrama merupakan anak-anak pekerja migran Indonesia (TKI) yang orang tuanya bekerja di wilayah Sebatik, Malaysia.

Hamsing,SPi bersama H.Nadia DPRD melihat kondisi jembatan Runtuh warga memperbaiki jembatan darurat 

 

Jembatan yang menjadi akses utama masyarakat juga dilaporkan telah runtuh. Fasilitas tersebut selama ini dimanfaatkan para petani untuk mengangkut hasil pertanian sekaligus menjadi jalur yang dilalui anak-anak menuju sekolah dasar.

 

Di balik keterbatasan tersebut, para guru tetap menunjukkan dedikasi tinggi. Salah satunya Nursyakira, guru honorer asal Bone, Sulawesi Selatan, yang telah mengabdi lebih dari dua tahun di sekolah tapal batas. Selain mengajar, ia juga menjadi pembina asrama bagi anak-anak yang tinggal jauh dari orang tuanya.

 

Nursyakira mengaku harus membagi waktu antara mengajar, mendampingi siswa di asrama, mengurus pekerjaan rumah, hingga memasak untuk keluarganya. Menurutnya, ketika ada tugas sekolah yang harus diselesaikan, sering kali waktunya berbenturan dengan berbagai aktivitas di rumah.

 

“Selama lebih dari dua tahun saya mengajar di sini, saya juga menjadi pembina asrama. Tantangannya cukup berat karena harus membagi waktu antara mengajar, mendampingi anak-anak asrama, menyelesaikan tugas sekolah, serta mengurus keluarga. Saya juga memasak di rumah dan memiliki anak kecil, sehingga semua harus diatur dengan baik,” ujar Nursyakira.

 

Ia menambahkan, setelah kegiatan belajar mengajar di sekolah selesai, sore harinya masih harus mendampingi anak-anak yang tinggal di asrama maupun siswa yang datang dari luar untuk mengikuti kegiatan mengaji sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing.

 

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Nunukan dari Daerah Pemilihan Sebatik, Hamsing, S.Pi., bersama H. Nadia, anggota Komisi I DPRD Kabupaten Nunukan, turun langsung meninjau kondisi sekolah dan mendengarkan berbagai keluhan yang disampaikan pihak sekolah.

 

Hamsing menegaskan bahwa aspirasi mengenai penyediaan sumur bor, perbaikan WC, jalan, dan pembangunan kembali jembatan akan dikawal agar menjadi perhatian pemerintah daerah. Menurutnya, sekolah di wilayah perbatasan harus mendapatkan dukungan infrastruktur yang memadai agar proses belajar mengajar dapat berjalan lebih baik dan anak-anak di tapal batas memperoleh hak pendidikan yang layak.(adv).

Berita Lainnya