Gelombang Mulai Tertahan, Abrasi Berkurang, Warga Sebatik Apresiasi Breakwater

2 Oktober 2026, 21:18 WIB

SEBATIK — Gelombang laut yang selama ini langsung menghantam garis pantai Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, mulai tertahan setelah pembangunan breakwater atau pemecah gelombang dilakukan di sejumlah kawasan pesisir. Infrastruktur pengamanan pantai itu mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama dalam mengurangi tekanan gelombang dan dampak abrasi.

 

Warga pesisir menilai keberadaan breakwater bukan sekadar bangunan penahan gelombang, tetapi bagian penting dari perlindungan ruang hidup masyarakat. Infrastruktur tersebut bersentuhan langsung dengan permukiman, aktivitas nelayan hingga kegiatan ekonomi yang bergantung pada kawasan pesisir.

 

Kepala Desa Padaidi, Abigurdi, mengatakan manfaat pembangunan mulai dirasakan masyarakat, khususnya warga yang bermukim dan beraktivitas di sekitar garis pantai. “Masyarakat merasa terbantukan dengan adanya breakwater ini. Abrasi pantai agak berkurang karena sudah ada penahan gelombang,” ujar Abigurdi, Jumat (2/10/2026).

 

Menurut Abigurdi, pengamanan pantai menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat pesisir Sebatik. Selain meredam hantaman gelombang, keberadaan breakwater diharapkan mampu membantu menjaga kawasan pantai dari ancaman abrasi yang selama ini menjadi persoalan.

 

Hal senada disampaikan Kepala Desa Tanjung Karang, Faizal, S.IP. Ia menilai pembangunan pengamanan pantai memiliki arti penting bagi masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di kawasan pesisir. Kondisi pantai yang lebih terlindungi diharapkan turut memberikan rasa aman bagi masyarakat.

 

Bagi nelayan, kondisi pesisir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, perlindungan terhadap garis pantai tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan aktivitas masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada kawasan laut.

 

Persoalan abrasi di Pulau Sebatik memiliki dampak yang lebih luas. Perubahan garis pantai dapat bersinggungan dengan permukiman, fasilitas masyarakat, aktivitas ekonomi serta kawasan yang menjadi tumpuan kehidupan warga pesisir.

 

Sebatik juga memiliki posisi strategis karena berada di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia dan berhadapan langsung dengan wilayah negara tetangga. Kondisi tersebut membuat perlindungan kawasan pesisir memiliki dimensi yang tidak hanya berkaitan dengan keselamatan masyarakat, tetapi juga keberadaan wilayah Indonesia di kawasan perbatasan.

 

Pembangunan pengamanan pantai paket lanjutan di Pulau Sebatik menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan kawasan pesisir. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menjaga garis pantai sekaligus mendukung keberlangsungan permukiman dan aktivitas masyarakat di wilayah terdepan Indonesia.

 

Penguatan infrastruktur di wilayah perbatasan juga menjadi perhatian pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum. Dalam pelaksanaannya, Balai Wilayah Sungai Kalimantan V Tanjung Selor bersama Balai Pelaksana Pemilihan Jasa Konstruksi (BP2JK) melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pekerjaan pembangunan pengamanan pantai.

 

PPK Sungai dan Pantai SNPT PJSA Kalimantan V Provinsi Kalimantan Utara, Hengky Irawan Ahmad Yani, turut melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan pekerjaan di kawasan pesisir Sebatik. Menurutnya, pemantauan dilakukan sebagai bagian dari pengendalian pekerjaan agar pembangunan berjalan sesuai ketentuan teknis dan target yang telah ditetapkan.

 

“Pemantauan dan evaluasi dilakukan untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai ketentuan dan target yang telah ditetapkan,” kata Hengky. Ia menegaskan, pembangunan pengamanan pantai merupakan bagian dari upaya memperkuat perlindungan kawasan pesisir Sebatik dari tekanan gelombang dan potensi abrasi.

 

Meski manfaat pembangunan mulai dirasakan, masyarakat berharap perhatian terhadap pesisir Sebatik tidak berhenti setelah pekerjaan konstruksi selesai. Pemeliharaan, pengawasan dan evaluasi secara berkala dinilai tetap diperlukan agar fungsi pengamanan pantai dapat dipertahankan menghadapi perubahan kondisi pesisir.

 

Faizal berharap perhatian terhadap kawasan pesisir terus berlanjut sehingga pembangunan pengamanan pantai memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Tanjung Karang dan wilayah pesisir Sebatik. Harapan serupa disampaikan Abigurdi agar infrastruktur yang telah dibangun tetap dijaga dan dapat melindungi masyarakat dalam jangka panjang.

 

Bagi warga Sebatik, pantai bukan sekadar batas antara daratan dan laut. Di kawasan itulah permukiman tumbuh, aktivitas ekonomi berlangsung dan kehidupan masyarakat terus bergerak. Ketika gelombang yang sebelumnya menghantam garis pantai secara langsung mulai tertahan, breakwater menjadi bagian dari ikhtiar menjaga daratan, ruang hidup masyarakat dan kawasan terdepan Indonesia.(O/P).

Berita Lainnya