SEBATIK TIMUR – Aparat kepolisian dari Polres Nunukan bersama jajaran Polsek Sebatik Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) di aula terbuka Polsek Sebatik Timur, Kamis (02/04). Kegiatan ini membahas upaya peningkatan kemitraan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah perbatasan, khususnya di Sebatik Timur.
Forum tersebut menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor dalam mencegah dan menanggulangi potensi gangguan keamanan, seperti pencurian dan konflik sosial. Hadir dalam kegiatan ini unsur kepolisian, TNI, pemerintah kecamatan, serta tokoh masyarakat yang menyampaikan pandangan dan solusi strategis demi menciptakan situasi yang aman dan kondusif di wilayah perbatasan.
Kapolsek Sebatik Timur menegaskan bahwa peningkatan keamanan menjadi prioritas, terutama dengan memperkuat patroli dan deteksi dini. Langkah ini dinilai penting seiring meningkatnya mobilitas masyarakat di kawasan perbatasan. “Kami berkomitmen menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat melalui langkah-langkah preventif dan respons cepat terhadap setiap potensi gangguan kamtibmas,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan memastikan kendaraan terkunci, menjaga barang berharga, serta aktif melaporkan pendatang baru kepada ketua RT atau aparat setempat. Sinergi antara aparat dan warga disebut menjadi kunci utama dalam menekan angka kriminalitas.
Dalam upaya konkret, Polsek Sebatik Timur juga mengoptimalkan patroli rutin, mengaktifkan kembali siskamling, serta membuka layanan pengaduan melalui hotline 110 dan layanan khusus Polsek yang siap menerima laporan masyarakat selama 2×24 jam.
Kapolsek mengungkapkan sejumlah titik rawan pencurian di wilayah hukumnya, terutama di area minim penerangan dan pengawasan CCTV. Beberapa lokasi yang disorot antara lain kawasan Tugu Garuda menuju Aji Kuning, serta persimpangan seperti Simpang Empat Kebalen dan Simpang Empat Sungai Nyamuk yang dinilai masih rawan kecelakaan.
Ia menegaskan, kepolisian tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga keamanan wilayah. “Kami sangat membutuhkan peran aktif masyarakat, baik berupa informasi maupun partisipasi langsung dalam menjaga lingkungan. Ini penting untuk menciptakan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Melalui pendekatan preemtif, polisi juga terus melakukan sosialisasi kamtibmas melalui Bhabinkamtibmas serta mendorong kembali aktivitas pos siskamling yang dinilai mulai tidak aktif. Upaya ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan secara mandiri.
FGD ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat koordinasi lintas sektor sekaligus membangun kesadaran bersama bahwa stabilitas keamanan di wilayah perbatasan merupakan tanggung jawab bersama.




