SEBATIK TIMUR – Upaya meningkatkan nilai ekonomi hasil perkebunan kelapa masyarakat di wilayah perbatasan terus dikembangkan. Camat Sebatik Timur, Zainal Abidinsyah, S.E., M.M., meninjau langsung usaha pengolahan kopra milik Abdul Amir dan Ramli, Sabtu (1/11/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Zainal didampingi Staf Sosial Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat (Sosek dan Kesra) Kecamatan Sebatik Timur, Munawir Dzasali. Keduanya melihat langsung proses pengolahan kelapa sekaligus berdialog dengan pemilik usaha terkait peluang pengembangan produksi kopra.
Usaha yang baru berjalan sekitar dua bulan ini mulai memberikan peluang pasar bagi petani kelapa di Sebatik Timur. Menariknya, usaha tersebut menerima pembelian kelapa dalam berbagai ukuran, baik besar maupun kecil.
Camat Zainal Abidinsyah mengatakan, pola pembelian tersebut memberikan kesempatan lebih luas bagi petani untuk menjual hasil panennya. Sebab, selama ini petani kerap menghadapi keterbatasan pemasaran karena sebagian pembeli atau tengkulak hanya menerima kelapa berukuran besar.
“Yang paling menguntungkan petani adalah dari hasil panen. Tengkulak selama ini hanya membeli kelapa ukuran besar saja. Sementara usaha yang digeluti Pak Abdul Amir dan Pak Ramli ini, semua ukuran kelapa, baik besar maupun kecil, semuanya dibeli sebagai bahan untuk membuat kopra,” ungkap Zainal.
Target Produksi 15 Ton, Dorong Pemanfaatan Tol Laut
Zainal menjelaskan, hasil pengolahan kopra tersebut direncanakan dipasarkan ke luar Pulau Kalimantan dengan target pengiriman mencapai 15 ton atau setara satu kontainer.
Melalui metode pengeringan menggunakan tungku pengasapan, produksi diharapkan dapat lebih cepat dibandingkan hanya mengandalkan penjemuran dengan sinar matahari. Dengan demikian, dalam satu periode produksi diperkirakan dapat dilakukan dua hingga tiga kali pengiriman.
Ia juga berharap pemasaran kopra nantinya dapat didukung melalui program Tol Laut agar biaya transportasi dan distribusi barang menjadi lebih murah dan efisien.
“Kalau bisa, hasil produksi kopra ini nantinya direkomendasikan melalui program Tol Laut. Dengan begitu, biaya pengiriman bisa lebih ringan dan usaha masyarakat semakin berkembang,” tambahnya.
Butuh Oven Pengering dan Sarana Transportasi
Meski memiliki peluang pasar, usaha pengolahan kopra tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, terutama pada proses pengeringan yang masih menggunakan metode konvensional melalui tungku pengasapan dan penjemuran matahari.
Keterbatasan alat transportasi untuk mendukung mobilisasi bahan baku maupun distribusi hasil produksi juga menjadi perhatian.
Menurut Zainal, keberadaan oven pengering modern akan membantu mempercepat proses produksi, meningkatkan efisiensi, serta mengurangi ketergantungan terhadap kondisi cuaca.
“Jika ada alat oven pengering, proses produksi akan jauh lebih cepat, efisien dan tidak tergantung cuaca,” jelasnya.
Limbah Kelapa Berpotensi Jadi Produk Bernilai Ekonomi
Selain menghasilkan kopra, Zainal melihat potensi ekonomi lain dari pemanfaatan limbah kelapa yang selama ini belum sepenuhnya dikelola.
Kulit dan sabut kelapa dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai jual, seperti briket, tali tambang, keset kaki, cocopeat hingga sapu.
“Menurut saya, kulit kelapa yang dibakar dan sabut kelapanya juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai produk, seperti briket, tali tambang, keset kaki, cocopeat, dan sapu. Jadi tidak ada yang terbuang, semua bisa menjadi uang,” pungkasnya.
Untuk mendukung pengembangan usaha tersebut, Pemerintah Kecamatan Sebatik Timur berharap adanya perhatian dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Nunukan, khususnya bantuan peralatan oven pengering modern, sarana transportasi, serta dukungan permodalan.
Dengan dukungan tersebut, usaha kopra milik Abdul Amir dan Ramli diharapkan mampu berkembang, membuka peluang kerja bagi masyarakat, memperluas pasar hasil perkebunan, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kelapa petani di Pulau Sebatik.(Z/p).




