Perjuangan Nurazima, Mahasiswa Politeknik Negeri Nunukan yang Berjalan Kaki Demi Meraih Mimpi

26 Oktober 2026, 12:19 WIB

NUNUKAN – Keterbatasan ekonomi dan transportasi tidak menyurutkan semangat Nurazima, atau akrab disapa Shima, untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Mahasiswa semester I Program Studi Teknik Alat Berat (TAB) Politeknik Negeri Nunukan itu harus berjalan kaki dan mencari tumpangan setiap hari demi meraih cita-citanya.Senin(26/10).

 

Kisah perjuangan Shima mendapat perhatian Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan, Andi Fajrul Syam, S.H., M.Pi. Ia bersama Ketua Program Studi Teknik Alat Berat, Canda Putri Anggini, mengunjungi Shima secara langsung untuk mendengarkan keluhan sekaligus melihat kondisi kehidupan yang dihadapinya.

 

Shima, yang kini berusia 26 tahun, memulai perjalanan menuju kampus dari kawasan Binusan Kilometer 1 sekitar pukul 06.00 WITA. Sementara perkuliahan dimulai pukul 07.30 WITA, keterbatasan transportasi terkadang membuatnya terlambat mengikuti kegiatan belajar.

 

Tanpa kendaraan pribadi, ia harus berjalan kaki atau mengandalkan tumpangan sepeda motor maupun mobil milik orang lain. Ketika ada kegiatan kelompok, Shima berusaha menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Untuk pulang, ia kembali mencari tumpangan atau menggunakan jasa ojek sesuai kemampuan keuangannya.

 

Bagi Shima, perjalanan menuju kampus bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari perjuangan untuk mendapatkan pendidikan dan mengubah masa depan keluarganya.

 

Tinggal Menumpang Selama 10 Tahun

 

Di balik perjuangannya menempuh pendidikan, Shima juga menghadapi keterbatasan tempat tinggal. Ia bersama keluarganya telah sekitar 10 tahun tinggal menumpang di rumah milik orang lain.

 

Ayahnya kini berusia 70 tahun dan sudah tidak bekerja, sedangkan ibunya berusia 64 tahun. Kondisi tersebut membuat perjuangan Shima untuk melanjutkan pendidikan menjadi semakin berat.

 

Sebagai anak ketiga, ia memiliki harapan besar untuk menyelesaikan pendidikan tinggi yang belum berhasil dituntaskan oleh kedua kakaknya.

 

Shima juga merupakan seorang ibu dari anak berusia lima tahun. Ia harus membesarkan anaknya setelah ditinggalkan suami ketika kehamilannya baru memasuki usia dua bulan.

 

Di tengah berbagai persoalan tersebut, ia tetap memilih melanjutkan pendidikan. Ia ingin menyelesaikan kuliah, memperoleh pekerjaan yang layak, memiliki penghasilan sendiri, serta memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak dan kedua orang tuanya.

 

Andi Fajrul Syam Berharap Ada Solusi

 

Kunjungan Andi Fajrul Syam bersama pihak Program Studi Teknik Alat Berat diharapkan menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi kebutuhan dan mencari solusi atas kendala yang dihadapi Shima, khususnya persoalan transportasi dan keberlanjutan pendidikannya.

 

Perhatian terhadap kondisi mahasiswa yang menghadapi keterbatasan dinilai penting agar mereka tetap memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan.

 

Dukungan dapat diupayakan melalui komunikasi dan koordinasi dengan pihak kampus, pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat sesuai kemampuan dan kewenangan masing-masing.

 

Persoalan transportasi yang dialami Shima menjadi salah satu kendala nyata yang perlu dicarikan jalan keluar. Dengan dukungan yang tepat, diharapkan ia dapat mengikuti perkuliahan secara lebih teratur tanpa harus terus-menerus menghadapi kesulitan untuk pergi dan pulang kampus.

 

Pendidikan sebagai Jalan Mengubah Masa Depan

 

Perjuangan Shima menjadi pengingat bahwa setiap mahasiswa memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda. Di saat sebagian mahasiswa dapat menuju kampus dengan mudah, ada pula yang harus berjuang sejak pagi untuk memastikan dirinya bisa mengikuti perkuliahan.

 

Shima masih berada di semester pertama. Perjalanannya untuk menyelesaikan pendidikan tentu masih panjang, mulai dari mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, menghadapi ujian, hingga meraih kelulusan.

 

Namun, tekadnya untuk mengubah masa depan menjadi alasan agar perjuangan tersebut mendapat perhatian dan dukungan.

 

Harapannya sederhana: menyelesaikan pendidikan, memperoleh pekerjaan yang layak, membahagiakan anak, serta membuat kedua orang tuanya bangga.

 

Pendidikan semestinya menjadi kesempatan bagi setiap orang untuk memperbaiki kehidupan, termasuk mereka yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi.

 

Karena itu, kepedulian dan dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu Shima melanjutkan pendidikan tanpa harus terhenti akibat kendala yang masih bisa diupayakan solusinya.

 

Hari ini, Shima mungkin masih harus berjalan kaki dari Binusan dan mencari tumpangan untuk sampai ke kampus. Namun, dengan kesempatan dan dukungan yang memadai, langkah kecilnya diharapkan menjadi awal menuju masa depan yang lebih baik.

 

Bagi masyarakat yang ingin memberikan dukungan kepada Nurazima (Shima), dapat menghubungi:

 

ketua komisi II DPRD Nunukan Andi Fajrul Syam, S.H., M.Pi.

Berita Lainnya