NUNUKAN — Kondisi sarana dan prasarana pendidikan di SMPN 4 Nunukan Selatan kembali menjadi perhatian. Dengan jumlah siswa sekitar 312 orang, sekolah tersebut masih menghadapi keterbatasan ruang kelas hingga sebagian siswa harus mengikuti pembelajaran dengan sistem bergantian pada shift siang.Senin(31/08).
Hal itu disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan, Andi Fajrul Syam, SH,Mpi setelah melakukan kunjungan ke SMPN 4 Nunukan Selatan.
Dalam kunjungan tersebut, Andi Fajrul Syam berdialog langsung dengan Kepala SMPN 4 Nunukan Selatan, Djadmoko, serta Surianto dan Lukman. Dialog tersebut membahas kondisi sekolah, kebutuhan ruang belajar, fasilitas sanitasi hingga sejumlah bagian bangunan yang membutuhkan rehabilitasi.
“Jumlah siswanya sekitar 312 orang. Kalau dihitung berdasarkan kebutuhan ideal, sekolah ini membutuhkan 12 ruang kelas, yakni empat untuk kelas VII, empat kelas VIII dan empat kelas IX,” ujar Andi Fajrul Syam.
Namun, kebutuhan tersebut belum sepenuhnya terpenuhi. Keterbatasan ruang kelas membuat sebagian siswa harus bergantian menggunakan ruang belajar dan mengikuti pembelajaran pada shift siang, mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WITA.
Menurut Andi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan empat Ruang Kelas Baru (RKB) di SMPN 4 Nunukan Selatan bukan lagi sekadar usulan, melainkan kebutuhan yang harus menjadi perhatian pemerintah.
“Karena itu, kebutuhan empat RKB bukan lagi sekadar usulan. Ini kebutuhan,” tegasnya.
Selain ruang kelas, fasilitas sanitasi juga menjadi perhatian. Dengan jumlah siswa mencapai sekitar 312 orang, keberadaan WC yang memadai dinilai menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, aman dan nyaman bagi peserta didik.
“Dengan 312 siswa, fasilitas sanitasi tentu harus sebanding. Jangan kita sibuk bicara sekolah sehat, sementara anak-anak masih harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan fasilitas dasarnya,” katanya.
Tak hanya itu, Andi juga menyoroti kondisi teras dan plafon pada enam ruangan yang membutuhkan rehabilitasi. Kebutuhan siring atau drainase di lingkungan sekolah juga dinilai penting untuk mendukung keamanan dan kenyamanan aktivitas belajar mengajar.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan sesuatu yang sulit untuk diketahui karena data jumlah siswa maupun kondisi sekolah sudah jelas. Yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana kebutuhan tersebut dapat ditempatkan dalam skala prioritas pembangunan daerah.
“Kadang masalahnya bukan karena pemerintah tidak tahu. Data jumlah siswa ada. Sekolahnya ada. Kondisinya nyata,” ujarnya.
Ia menegaskan, pembangunan pendidikan tidak cukup hanya diwujudkan melalui program dan pernyataan di atas podium. Menurutnya, perhatian terhadap pendidikan harus terlihat dari kondisi nyata sekolah dan fasilitas yang digunakan siswa setiap hari.
“Sebab 312 anak ini tidak butuh kalimat-kalimat indah tentang pendidikan. Mereka butuh ruang untuk belajar, WC yang layak dan sekolah yang aman,” tegas Andi.
Ia berharap kondisi SMPN 4 Nunukan Selatan dapat menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Nunukan dalam penyusunan dan penentuan prioritas pembangunan sektor pendidikan.
“Jangan sampai kita terlalu jauh berbicara tentang masa depan pendidikan di atas podium, tapi lupa melihat tempat masa depan itu sedang dibentuk hari ini,” pungkasnya.
“Karena masa depan itu, sedang duduk di dalam kelas.”(PD).




